Kamis, 17 November 2016

BIOGRAFI


Nama saya RIDWAN, tinggal dikeluarga sederhana dari pasangan haris dan sudarmi, anak ketiga dari 4 bersaudara, saya sudah menempu ilmu pendidikan dari SD NEGERI 36 SEPPONG, melanjutkan ke SMP Neg 1 Belopa, Dan Melanjutkan di SMA Neg 2 Belopa. dan saat ini saya menempu pendidikan di universitas cokroaminoto palopo. sekarang saya tinggal di Jl. Salobulo Hobbi saya main PS dan Main Bola, saya mengambil jurusan FTKOM dan saya sudah semester 7 dan kelas saya di kelas Gabungan 4 RPL mata kuliah E-BUSINESS dan saya sudah melewati banyak mata kuliah di Universitas Cokroaminoto Palopo, Fakultas Teknik Komputer, Program studi Informatika dan mata kuliah yang saya pelajari semester ini yaitu  : E-BussinesPemodelan dan SimulasiRiset OperasiTeknik Kompilasi, dan juga Proposal Dan Mata kuliah favorit saya yaitu Microsoft Visual Basic 6.0, Analisis dan perancangan sistem dan juga Etika profesi , Dan sekarang tinggal berusah dan berjuang untuk mencapai gelar sarjana. (S1) InsyaAllah Amin.                                                   

                                                                                                                                                            LAPORAN PERSENTASI :
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pertumbuhan dunia bisinis di Indonesia mengalami perkembangan yang cepat, terutama bisnis yang berbasis dengan internet atau e-commerce. Pertumbuhan bisnis yang berbasis internet atau e-commerce, sejalan dengan tingginya pertumbuhan penggunaan internet oleh masyarakat Indonesia. Pertumbuhan bisnis e-commerce di Indonesia yang tiap tahun mengalami kenaikan yang cukup tinggi, mendorong para pelaku bisnis baik yang bergerak di bidang kuliner, fashion, kreatif, ritel dan lainnya untuk mengembangkan bisnisnya kearah bisnis yang berbasis internet atau e-commerce. Para pelaku bisnis tersebut melihat e-commerce sebagai peluang besar bagi bisnis mereka agar dapat bertahan dan bersaing di pasar.
Menurut Loudon (2012), mendefinisikan e-commerce sebagai penggunaan internet dan Web untuk transaksi bisnis. Berdasarkan definisi tersebut, pada bisnis yang berbasis e-commerce lebih berfokuskan pada transaksi komersial berbasis digital dalam tiap transaksi yang dilakukan antara dan diantara perusahaan/organisasi dan konsumen/individu.
Dengan lebih berfokuskan pada transaksi yang berbasis digital, hal tersebut diharapkan dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam proses transaksi bisnis dan memudahkan konsumen dalam memperoleh produk yang diingkan. Kemudahan dapat dilihat melalui manfaat yang diterima oleh pelaku bisnis yang menggunakan bisnis online 2 diantaranya adalah untuk menjaga para pelanggan dan calon pelanggan agar mereka mengetahui ragam produk yang ditawarkan, harga, ketersediaan produk, dan sebagainya, hal tersebut yang mendorong banyak industri-industri yang mulai menerapkan sistem bisnis berbasis e-commerce dalam menjalankan bisnisnya untuk memudahkan transaksi bisnisnya, salah satunya yaitu industri ritel.
Industri ritel merupakan salah satu jenis industri yang berkembang di masyarakat. Kata ritel itu sendiri berasal dari bahasa perancis yaitu ritellier yang berarti memotong, memecah, atau membagi menjadi bagian yang lebih kecil. Menurut Utami (2010), mendefinisikan ritel sebagai salah satu perangkat dari aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produk-produk dan layanan penjualan kepada konsumen dalam penggunakan atau konsumsi perseorangan maupun keluarga. Pemahaman ritel yang identik dengan kuantitas dalam jumlah besar menjadi kuantitas yang lebih kecil atau satuan. Di industri ritel, terdapat aktivitas-aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produk-produk dan layanan penjualan kepada konsumen dalam penggunaan atau konsumsi perseorangan maupun keluarga. Kebutuhan akan ritel searah dengan kebutuhan konsumen akan barang yang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan pada saat, tempat dan waktu tertentu tanpa harus menyimpan barang tersebut. Bisnis ritel mengalami perkembangan yang lumayan cepat yang ditandai dengan banyaknya para pelaku bisnis ritel yang membenahi sistem bisnis mereka yang masih terhitung tradisional menjadi bisnis ritel modern dan bermunculannya juga para pelaku bisnis ritel modern yang baru lahir. 3 Pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia dapat dikatakan tinggi, hal tersebut dibuktikan hingga desember 2014 total gerai ritel dari anggota Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) mencapai 26 ribu gerai yang tersebar diseluruh Indonesia.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun Rumusan masalah yang terjadi pada makalah ini yaitu:
1.      Bagaimana Periklanan Berbasis Web
2.      Bagaimana Metode Periklanan Online
3.      Bagaimana Strategi periklana Dan Promosi

1.3  Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu
1.      Mengetahui periklanan berbasis web
2.      Mengetahui bagaimana metode periklanan online
3.      Mengetahui strategi periklana Dan Promosi


BAB II
PEMBAHASAN
2.1    Ritel
ritel merupakan salah satu jenis industri yang berkembang di masyarakat. Kata ritel itu sendiri berasal dari bahasa perancis yaitu ritellier yang berarti memotong, memecah, atau membagi menjadi bagian yang lebih kecil. Menurut Utami (2010), mendefinisikan ritel sebagai salah satu perangkat dari aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produk-produk dan layanan penjualan kepada konsumen dalam penggunakan atau konsumsi perseorangan maupun keluarga. Pemahaman ritel yang identik dengan kuantitas dalam jumlah besar menjadi kuantitas yang lebih kecil atau satuan.
Di industri ritel, terdapat aktivitas-aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produk-produk dan layanan penjualan kepada konsumen dalam penggunaan atau konsumsi perseorangan maupun keluarga. Kebutuhan akan ritel searah dengan kebutuhan konsumen akan barang yang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan pada saat, tempat dan waktu tertentu tanpa harus menyimpan barang tersebut. Bisnis ritel mengalami perkembangan yang lumayan cepat yang ditandai dengan banyaknya para pelaku bisnis ritel yang membenahi sistem bisnis mereka yang masih terhitung tradisional menjadi bisnis ritel modern dan bermunculannya juga para pelaku bisnis ritel modern yang baru lahir.
Pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia dapat dikatakan tinggi, hal tersebut dibuktikan hingga desember 2014 total gerai ritel dari anggota Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) mencapai 26 ribu gerai yang tersebar diseluruh Indonesia. Dengan semakin berkembangnya bisnis ritel dan usaha untuk dapat menyesuaikan dengan kebutuhan yang terdapat di pasar dan perubahan selera dan perilaku dari konsumen, maka muncul berbagai format ritel modern sebagai perkembangan dari format ritel tradisional. Pada bisnis ritel, terdapat dua bentuk utama dalam penggunaan sarana dan media yaitu bisnis ritel yang dilakukan di dalam toko (brick and mortar) dan dengan berkembangnya pengguna internet mendorong para pelaku bisnis membuat format ritel tanpa toko/berbasis digital atau virtual store. Perbedaan yang mendasar antara format ritel dengan format brick and mortar dengan virtual store yaitu pada komponen yang dalam membangun tokonya, yaitu pada format brick and mortar menggunakan toko sebagai tempat melakukan transaksi bisnis sedangkan pada format virtual store tidak menggunakan toko dalam melakukan jual-beli namun hanya menampilkan barang dagangan dan formulir pemesanan dalam bentuk online.

2.2    E-bisnis
       Sairamesh (2004) E-Bisnis adalah praktek pelaksanaan dan pengelolaan proses bisnis utama seperti perancangan produk, pengelolaan pasokan bahan baku, manufaktur, penjualan, pemenuhan pesanan, dan penyediaan layanan melalui penggunaan teknologi komunikasi, komputer, dan data yang telah terkomputerisasi. E-Bisnis menggunakan teknologi informasi berupa internet dan jaringan komputer lainnya untuk menjalankan proses bisnis utama yaitu pembelian dan penjualan. Awalan “e” dalam kata e-Bisnis berarti “elektronik”, yang berarti kegiatan atau transaksi yang digunakan tanpa pertukaran atau kontak fisik, transaksi diadakan secara elektronik atau digital, hal ini menjadi mungkin dengan dukungan perkembangan komunikasi digital yang pesat. 
E-Bisnis adalah perluasan dari e-Commerce, di mana tidak hanya pembelian, pembayaran barang, dan pelayanan, tetapi juga disertai pelayanan konsumen, kolaborasi dengan partner bisnis dengan dukungan elektronik sebagai alat transaksi atau organisasi, dalam penerapannya E-Bisnis akan menggunakan seluruh mata rantai dalam proses bisnisnya, seperti proses pembelian secara eletronik & management rantai pasokan, pemrosesan pesanan secara elektronik, mengatur pelayanan pelanggan hingga bekerja sama dengan partner (mitra usaha). Dalam e-Bisnis transaksi uang belum tentu diperlukan, karena pada prinsipnya e-Bisnis juga melibatkan pemasaran, perancangan produk, dan evaluasi layanan konsumen. Jadi e-Bisnis merupakan integrasi dari pembelian dan penjualan secara eletronik, pengadaan secara elektronik, distribusi dan delivery barang secara elektronik, layanan online untuk customer, pemasaran secara elektronik, transaksi yang aman, proses yang diotomatisasi dan juga kolaborasi semua bagian secara elektronik.
Model e-Bisnis adalah sebuah pendekatan untuk melakukan bisnis elektronik dengan model tertentu, agar perusahaan bisa mempertahankan bisnisnya dan menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang menguntungkan. Model e-Bisnis menjelaskan bagaimana fungsi suatu perusahaan, yaitu bagaimana perusahaan menyediakan produk atau layanan, bagaimana menghasilkan pendapatan, dan bagaimana beradaptasi dengan pasar baru dan teknologi yang baru. Model e-Bisnis memiliki empat komponen tradisional, yaitu konsep e-Bisnis, nilai proposisi, sumber pendapatan, dan kegiatan yang diperlukan, sumber daya dan kemampuan. Kesuksesan dari model e-Bisnis merupakan kerja sama komponen-komponen tersebut. (Johnston, 2006)


2.3    Periklanan Berbasis Web
2.3.1        Periklanan
Periklanan adalah penggunaan media bayaran oleh seorang penjual untuk mengkomunikasikan informasi persuasif tentang produk (ide, barang, jasa) ataupun organisasi yang merupakan alat promosi yang kuat (Suyanto, 2004:3), selain itu menurut Jefkins, periklanan merupakan pesan-pesan penjualan yang paling persuasif yang diarahkan kepada para calon pembeli yang paling potensial atas produk barang atau jasa tertentu dengan biaya yang semurah-murahnya (Jefkins, 1997:5), sedangkan iklan adalah promosi barang, jasa, perusahaan, dan ide yang harus dibayar oleh sponsor (Supriyanto, 2008:19). Sponsor dalam hal ini merupakan perusahaan tertentu yang nantinya menjadi klien penyedia jasa promosi . Pemasaran melihat iklan sebagai bagian dari strategi promosi secara keseluruhan. Komponen lainnya dari promosi termasuk publisitas, relasi publik (public relations), penjualan, dan promosi penjualan. Jadi, iklan adalah derivasi (turunan) dari strategi promosi. Iklan, merupakan bentuk komunikasi satu arah melalui media yang memuat “pesan” dari produk atau jasa yang ditawarkan (Supriyanto, 2008:19).
iklan umumnya ditempatkan pada tempat-tempat di mana audience (peminat) dapat dengan mudah atau sering mengaksesnya baik dalam bentuk visual (gambar) atau audia (suara) (Supriyanto, 2008:20). Selain itu, terkadang dapat ditemukan iklan pada troli-troli supermarket, 10 sepanjang dinding koridor di bandara udara, pada sisi bus (kendaraan umum), serta nada tunggu telepon pada sistem informasi publik. Menurut Lamb, et.al. (2001:205) iklan memiliki dua jenis utama yaitu:
1.   Periklanan Institusi (institutional advertising) Didesain untuk meningkatkan citra sebuah perusahaan daripada mempromosikan suatu produk tertentu. Bentuk dari periklanan institusi dikenal dengan periklanan sokongan (advocacy advertising), digunakan untuk mengungkapkan pandangannya mengenai pokok-pokok persoalan atau merespons terhadap serangan media.
2.       Periklanan Produk Digunakan untuk mempromosikan manfaat suatu produk maupun jasa tertentu. Tahap produk ini dalam siklus hidupnya sering kali menentukan jenis iklan produk yang akan digunakan, antara lain:ntinya menjadi klien penyedia jasa promosi

2.3.2        Web
pernyataan misi harus mengungkapkan tujuan dan subjek dari situs Web dan menyatakan target dari pengguna/audience. Berdasarkan pernyataan misi, maka modeling audience dilakukan dalam dua langkah yaitu klasifikasi pengguna dan karakteristik kelas pengguna. Selama fase klasifikasi pengguna, berbagai jenis pengguna diidentifikasi dan memberikan karakterisitik kelas dari penggunanya. Selanjutnya dalam fase perancangan konseptual dibagi dalam tiga langkah: Informasi, Fungsional dan Navigational Modeling.
Untuk menjalankan e-Bisnis di dunia maya, para pelaku bisnis biasanya memilih salah satu model e-Bisnis yang cocok dengan karakter dan budaya di suatu daerah serta proses bisnis perusahaan. Kalau model e-Bisnis yang biasa dijalankan dikaji oleh pelaku bisnis di dunia maya pada umumnya adalah:

1)  Business-to-business (B2B), yaitu bisnis yang terjadi secara elektonik antara bisniscorporate/perusahaan dengan corporate.
2)  Business-to-consumer (B2C), yaitu bisnis yang terjadi secara elektronik antara bisniscorporate/perusahaan dengan perorangan.
3)     Consumer-to-consumer (C2C), yaitu bisnis yang terjadi secara elektronik antara perorangan dan perorangan, ini bisa melalui broker atau pun langsung antar customer dengan customer.
4)  Business-to-employee (B2E), yaitu bisnis yang terjadi secara elektronik antara bisniscorporate/perusahaan dengan karyawan-nya, atau yang terkait dengan partner perusahaan sebagai karyawan. perusahaan dengan karyawan-nya, atau yang terkait dengan partnerperusahaan sebagai karyawan.
5)  Business-to-government (B2G), yaitu bisnis yang terjadi secara elektronik antara bisniscorporate/perusahaan dengan permerintahan.
6)       Government-to-government (G2G), yaitu bisnis yang terjadi secara elektronik antara bisnis milik pemerintahan suatu negara dengan bisnis milik pemerintahan negara lain.

2.3.3        Iklan Ritel Berbasis Wabsite
dua jenis utama iklan ritel antara lain:
a.         Iklan Ritel atau lokal Iklan yang digunakan oleh pedagang untuk menjual produk secara langsung kepada konsumen. Periklanan ritel disebut juga periklanan lokal karena pasar sasarannya adalah konsumen setempat. Periklanan lokal berbeda dengan periklanan merek yang bersifat nasional. Beberapa perbedaan itu diantaranya :
1.     Periklanan ritel ditujukan kepada mereka yang tinggal dikota tempat toko berada, sedangkan periklanan merek yang bersifat nasional menyampaikan pesan yang berhubungan secara luas dengan pemakaian suatu produk tertentu.
2.         Konsumen periklanan merek yang bersifat nasional hanya mendukung merek sponsor, sedangkan periklanan ritel dapat mempromosikan beberapa merek yang berbeda atau bahkan merek yang bersaing.
3.   Periklanan ritel ditujukan kepada masyarakat lokal yang mempunyai berbagai kepentingan yang saling berhubungan secara terpadu. Segala sesuatu yang berhubungan dengan iklan ditekankan pada perilaku konsumen, khususnya yang berkunjung ke toko. Karena itu, periklanan ritel meliputi informasi harga, alamat, nomor telepon, syarat penjualan, warna, ukuran, dan 12 sebagainya. Sedangkan periklanan merek nasional lebih berkenaan dengan citra dan perubahan sikap.
4.       Periklanan ritel lokal yang diterapkan oleh toko-toko lokal pada umumnya berkenaan dengan informasi yang bersifat umum, seperti nama toko, nomor telepon, alamat, dan jam beroperasinya toko.
b.        Iklan antar-perusahaan iklan yang ditujukan kepada pelaksana dalam operasi perusahaan yang membeli untuk keperluan perusahaan. Tipe iklan antar-perusahaan diantara lain:
1.         Iklan Perindustrian Kebutuhan informasi didasarkan pada alasan pembelian produk.
2.      Iklan Perdagangan Digunakan untuk menyampaikan persuasi kepada pedagang besar, perantara, dan pengecer di pasar konsumen agar membeli stok produk dari pabrik.
3.      Iklan Pertanian Mempromosikan berbagai produk dan jasa, seperti produk kesehatan hewan, benih, mesin dan peralatan pertanian, dan pupuk.
4.         Iklan Profesi Iklan yang ditujukan kepada kalangan profesi seperti akuntan, pengacara, dokter, dan sebagainya. Pemasang iklan bermaksud melibatkan kalangan profesi dalam penerbitan seperti jurnal akuntansi.

2.4    Metode Periklanan Online
Adapun metode periklanan online sebagai berikut:
a.         Banner pada halaman web, tampilan iklan grafis terhubung kehalaman web pegiklan,
b.      Keyword Banner iklan yang muncul ketika sebuah kata yang telah ditentukan dari mesin pencari
c.         Random Banner iklan yang muncul secara acak, bukan sebagai hasil dari aksi pengguna
d.     Banner Swapping sebuah perjanjian kesepakatan antara dua perusaahan untuk setiap tampilan ikalan banner lain disitus webnya.
e.      Banner Exchanges  pasar dimana perusahan dapat melakaukan perdangagan atau pertukaran penempatan ikalan banner disiitus web masing-masing
f.      Pop-up Ad sebuah iklan yang muncul dijendela terpisah sebelum, sesudah, atau selama surfin internet atau ketika membaca e-mail
Untuk membangun bisnis online atau online store ada strategi khusus agar customer mau membrowsing produk-produk yang dijual.
a.         URL Harus Jelas
Situs Network Solution menjelaskan, URL atau alamat website harus jelas dan mudah dibaca. Alamat online Anda merupakan elemen penting dalam pemasaran dan branding, sebagai contoh xyzshoes.com. Ini cukup menjelaskan bisnis Anda dibidang sepatu.
b.        Transaksi Terjamin Aman
Set up merchant account sehingga toko online Anda aman saat memproses kartu kredit dan transaksi lainnya. Pastikan account merchant Anda setidaknya dapat menerima kartu kredit berlabel Visa, Master Card dan pembayaran Paypal, serta menerima pembayaran bank lainnya.
c.         Membuat Online Store yang Menarik dan Mudah Diakses
Agar toko online Anda menarik, sebaiknya Anda bekerjasama dengan profesional web designer. Selain menarik, website Anda juga harus mudah dinavigasi oleh para customer.
d.        Gambar Produk Harus Jelas
Ketika orang berbelanja online, mereka tentu ingin mengetahui segala sesuatu tentang produk yang mereka beli. Layaknya berbelanja di toko, customer ingin tahu kualitas produk. Situs BerganBlue menjelaskan, sangat penting jika gambar produk jelas dan detail. Kualitas foto sangat ditentukan di sini. Selain itu, upload beberapa foto dan ambil dari sudut-sudut yang berbeda.
e.         Diskon
Untuk menarik customer, berikan penawaran-penawaran menarik, seperti memberikan diskon. Beritahu jika online store Anda sedang memeberikan diskon melalui e-newsletter, Twitter dan Facebook sebagai media promosi. (Sumber: Tribunnews.com)

2.5      Strategi Periklanan Dan Promosi
Menurut Sugihantoro (2010:2-5), sebuah kreatifitas dalam periklanan tidaklah muncul secara tiba-tiba namun merupakan suatu proses. Dalam proses pencapaian inti pesan – yang dikenal sebagai proses pengembangan kreatif – perlu diawali dengan upaya pencarian data, fakta dan realita dari masalah yang dihadapi. Biasanya dilakukan studi khalayak untuk selanjutnya dilakukan penganalisaan data, penemuan pemecahan masalah, dan penentuan tujuan komunikasi. Dalam pencapaian tujuan komunikasi dikembangkanlah strategi komunikasi, baik strategi kreatif maupun strategi media. Strategi kreatif merupakan upaya bagaimana agar suatu inti pesan dapat diterima dengan baik oleh sasaran. Salah satu pendekatan proses kreatif iklan dikembangkan oleh Graham Wallas, seorang sosiolog Inggris, yang terdiri sebagai berikut:
1.      Persiapan, yaitu kegiatan mengumpulkan informasi latar belakang yang diperlukan untuk memecahkan masalah melalui riset dan studi.
2.        Inkubasi, yaitu proses mengembangkan ide atau gagasan.
3.        Iluminasi, yaitu upaya mencari pemecahan masalah.
4.        Verifikasi, yaitu upaya memperbaiki ide atau gagasan dan menentukan jika ide atau gagasan tersebut merupakan solusi yang tepat. Untuk merangkum pemikiran-pemikiran yang terjadi dalam proses kreatif tersebut di atas, perlu dituangkan dalam suatu naskah perencanaan kreatif atau biasa disebut sebagai “copy platform”. Copy Platform ini sebagai suatu dokumen yang biasa dipergunakan sebagai dasar pengembangan inti pesan, acuan dalam diskusi, berdebat atau menuangkan dalam bentuk pesan yang lebih kongkrit.
Selain itu istilah lain untuk “copy platform” ini adalah “workplan”, “blueprint” atau istilah sejenisnya. Isi suatu copy platform bisa berupa briefing,
pointers, atau suatu manuscript yang lengkap. Pada dasarnya “copy platform” merupakan inti pesan yang berisi antara lain : permasalahan, sasaran, posisi produk, tujuan, ide besar, daya tarik, strategi, pendekatan, sampai pada kemungkinan pelaksanaannya. Salah satu contoh “copy platform” adalah sebagai berikut: COPY PLATFORM 1. Masalah komunikasi / periklanan 2. Tujuan komunikasi 3. Keistimewaan (produk) 4. Sasaran 5 Saingan 6. Posisi (produk) 7. Ide besar 8. Strategi komunikasi 9. Pendekatan 10. Pelaksanaan Setelah inti pesan (the big idea) telah ditemukan, perlu dipikirkan bagaimana strategi kreatif akan diterapkan, agar isi pesan tersebut dapat sampai dan diterima dengan tepat oleh sasaran, serta mampu mencapai tujuan komunikasi yang ditetapkan.
Pada dasarnya dalam strategi kreatif atau pesan, dikembangkan dari dua fokus utama yakni terfokus pada produk, atau terfokus pada sasaran. Apabila strategi terfokus pada produk, biasanya pemanfaatan kelebihan kelebihan apa yang terkandung dalam suatu produk. Tetapi apabila fokus pada sasaran, maka strategi yang ditempuh adalah melalui hal-hal apa yang ada pada sasaran, seperti kebutuhan, keingingan, citra yang ada dan sejenisnya. Terdapat bermacam-macam strategi dalam penyusunan suatu perencanaan pesan periklanan, tetapi pada dasarnya aliran-aliran tersebut dikembangkan dari dua fokus utama di atas. Beberapa pendekatan untuk mengerjakan strategi kreatif ini antara lain
a.        Pendekatan Generik
Pendekatan generik ditemukan oleh Michael E. Porter. Pendekatan ini. Berorientasi pada keunggulan biaya keseluruhan dan diferensiasi. Keunggulan biaya keseluruhan menonjolkan harga lebih rendah dari pada pesaing. Diferensiasi menonjolkan perbedaan merek yang mencolok dengan merek pesaing tetapi tidak secara superior. Diferensiasi terdiri dari diferensiasi produk, diferensiasi pelayanan, diferensiasi personal, diferensiasi saluran dan diferensiasi citra. Diferensiasi produk terdiri dari bentuk, pernik-pernik, kualitas, kehandalan, mudah diperbaiki gaya dan rancangan. Diferensiasi pelayanan meliputi mudah pemesanan, instalasi pelatihan pelanggan, konsultasi pelanggan, pemeliharaan dan perbaikan, dan pelayanan lainnya. Diferensiasi personal adalah diferensiasi lewat keunggulan personal. Diferensiasi saluran adalah diferensiasi lewat keunggulan rancangan distribusi, cakupan, keahlian dan kinerja. Diferensiasi citra merupakan diferensiasi yang tangkap oleh konsumen berupa citra merek. Sedangkan menurut Shimp, pada pendekatan generik pengiklan tidak melakukan upaya untuk membedakan mereknya dari pesaing atau menyatakan keunggulan produknya (2003:437). 
b.        Pendekatan Preemtive
Strategi ini digunakan oleh perusahaan yang produknya kecil. Pendekatan
preemptive merupakan strategi yang cerdik karena menonjolkan superioritasnya dan merupakan pernyataan yang unik. Menurut Shimp, pengiklan menggunakan pendekatan ini dengan menyatakan keunggulan produknya (2003:439). Strategi ini paling sering digunakan oleh para pengiklan kategori produk/jasa yang tidak ada atau hanya sedikit memiliki perbedaan fungsional dengan merek-merek pesaingnya.
c.         Pendekatan Unique Selling Proposition
Dikembangkan oleh Rosser Reeves, pendekatan ini berorientasi pada keunggulan atau kelebihan produk yang tidak dimiliki oleh produk pesaing. Kelebihan dari pendekatan USP (Unique Selling Proposition) merupakan sesuatu yang dijadikan alasan bagi konsumen menggunakan suatu produk. Produk dibedakan oleh karakter yang spesifik. Sedangkan menurut Shimp, dengan pendekatan ini pengiklan menyatakan keunggulan produknya berdasarkan atribut produk yang unik, yang memberikan suatu manfaat yang nyata bagi konsumen (2003:440). Ciri utama USP (Unique Selling Proposition) adalah memperkenalkan perbedaan penting yang membuat suatu merek yang unik, lalu mengembangkan suatu klaim periklanan sehingga para pesaing tidak bisa memilih atau tidak memiliki pilihan. Pendekatan USP paling sesuai untuk perusahaan dengan merek yang memiliki keunggulan bersaing yang tahan lama, seperti produsen barangbarang yang kompleks secara teknis atau penyedia jasa yang canggih.
d.        Brand Image
Brand Image adalah sebuah merek atau produk diproyeksikan pada suatu citra (image) tertentu (melalui periklanan). Gagasannya adalah agar konsumen dapat menikmati keuntungan psikologis dari sebuah produk (selain keuntungan fisik yang mungkin ada). Ini biasanya berorientasi pada symbol kehidupan. Pendekatan ini dipopulerkan oleh David Ogilvy dalam bukunya Confessions of an Advertising Man. Sedangkan menurut Shimp, pendekatan brand image lebih melibatkan diferensiasi psikologis dari sekedar diferensiasi fisik. Periklanan berupaya untuk mengembangkan citra atau identitas bagi suatu merek dengan mengasosiasikan produk tersebut dengan simbol-simbol tertentu.
e.         Pendekatan Inherent Drama
Inherent Drama menggunakan pendekatan yang menekankan pada filosofi periklanan Leo Burnett, pendiri agensi Leo Burnet di Chicago. Iklan didasarkan pada landasan manfaat yang diperoleh konsumen dan menekankan elemen dramatik yang diekspresikan pada manfaat tersebut.
f.          Konsep Positioning
Dikemukakan oleh Jack Trout dan Al Ries pada awal tahun 1970-an dan menjadi dasar yang populer pada pengembangan strategi kreatif. Gagasan umum positioning adalah menempatkan sebuah produk untuk mendapatkan posisi yang baik dalam benak konsumen. Merek yang telah memiliki posisi mapan dalam benak akan menjadi faktor pengaruh yang kuat pada saat konsumen memerlukan solusi. Pendekatan positioning biasanya berorientasi pada market leader. Jack Trout dan Al Ries mengatakan bahwa positioning bukan yang dikerjakan terhadap produk, tetapi yang dikerjakan terhadap benak konsumen. Perusahaan yang sukses harus berorientasi pada “competitor”, harus mencari poin-poin kelemahan dalam posisi competitor mereka, dan kemudian meluncurkan serangan pemasaran terhadap poin-poin kelemahan mereka. Sedangkan menurut Shimp, iklan yang sukses seharusnya menancapkan dibenak pelanggan tentang makna yang jelas dari produk tersebut dan bagaimana produk itu dibandingkan dengan penawaran kompetitif (2003:443). Suatu merek diposisikan dalam benak konsumen untuk dapat menyaingi pesaingnya.
g.        Strategi Resonansi
Strategi ini tidak berfokus pada citra merek atau pernyataan merek, tetapi lebih berfokus pada situasi atau kondisi yang ditemukan yang menguatkan pengalaman hidup konsumen (Suyanto, 2008:36). Menurut Shimp, resonansi lebih terfokus pada keadaan atau situasi saat ini hingga menemukan lawan yang imbang dalam pengalaman rill atau imajinasi khalayak sasaran (2003:444). Iklan yang didasarkan pada strategi ini berupaya untuk mencocokkan “pola-pola” dalam suatu iklan dengan pengalaman masa lalu khalayak sasaran.


BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Pertumbuhan dunia bisinis di Indonesia mengalami perkembangan yang cepat, terutama bisnis yang berbasis dengan internet atau e-commerce. Pertumbuhan bisnis yang berbasis internet atau e-commerce, sejalan dengan tingginya pertumbuhan penggunaan internet oleh masyarakat Indonesia. Pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia dapat dikatakan tinggi, hal tersebut dibuktikan hingga desember 2014 total gerai ritel dari anggota Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) mencapai 26 ribu gerai yang tersebar diseluruh Indonesia. Dengan semakin berkembangnya bisnis ritel dan usaha untuk dapat menyesuaikan dengan kebutuhan yang terdapat di pasar dan perubahan selera dan perilaku dari konsumen, maka muncul berbagai format ritel modern sebagai perkembangan dari format ritel tradisional.
Industri ritel merupakan salah satu jenis industri yang berkembang di masyarakat. Kata ritel itu sendiri berasal dari bahasa perancis yaitu ritellier yang berarti memotong, memecah, atau membagi menjadi bagian yang lebih kecil. Menurut Utami (2010),

3.2    Saran
Adanya kritik dan saran dari para pembaca adalah untuk menjadi kita yang lebih baik, dan adanya pengembangan lebih lanjut. Dan intraksi antara penulis dan pembaca/pendengar                             

                       
                                                                                                                                                                PELUANG DAN USAHA PENERAPAN E-BUSINESS

Peluang Dan Tantangan E-business
Perkembangan internet akan berdampak pada perubahan dan cara organisasi merancang, memproses, memproduksi, memasarkan, dan menyampaikan produk. Lingkup persaingan yang semakin luas juga menuntut intergrasi dan koordinasi antara departemen sistem informasi, pemasaran, layanan pelanggan, dan departemen-departemen lainnya dalam organisasi beraneka ragam peluang pemanfaatan internet yang dapat dieksploitasi meliput sumber baru untuk informasi pasar individualized/customized marketing, cara baru menjalin relasi online dengan pelanggan dan membangun citra merek (interactive marketing), dan peluang baru bagi distribusi produk dan komunikasi pemasaran. Proses penyampaian (delivery) produk secara digital via internet di perkirakan bakal semakin marak dalam berbagai sektor bisnis, terutama untuk program perangkat lunak, surat kabar, musik, tiket pesawat,sekuritas, jasa konsultasi, hiburan, perbankan, asuransi, pendidikan, dan perawatan, kesehata. Sekalipun ada banyak sekali daya pikat e-business (terutama yang berbasis internet), masih ada sejumlah tantangan atau keterbatasan yang harus di atasi. Dalam lingkup yang lebih luas, perkembangan e-business dalam kontek ekonomi baru (new economy) atau webeconomics masih menghadapi sejumlah tantangan besar, diantaranya:
1.      Peningkatan ketersediaan dan kecepatan akses internet secara luas dan sejauh ini tingkat penetrasi internet masih rendah
2.      Pembenahan infrastruktur (seperti perangkat lunak dan perangkat keras) serta regulasi( tarik telepon, jasa, ISP, dan Undang-undang tentang e-Commerce)
3.      Isu privasi dan keamanan dalam transaksi via internet terutama masalah kartu kredit “illegal”.  Hal ini mempengaruhi rendahnya tingkat kepercayaan (trust) masyarakat, yang pada gilirannya menyebabkan masih rendahnya volume transaksi online.
4.      Dalam banyak kategori produk, masyarakat lebih menyukai model bisnis konvensional, contoh, masih banyak orang yang lebih suka membolak-balik majalah atau buku terntetu sebelum memutuskan untuk membeli.
5.      Biaya dan justifikasi, misalnya; menyangkut keputusan mengembangkan e-business sendiri versus outsoutcing krtieria memilih pemasok perangkat lunak dan infrastruktur, sultinya mengkuantifikasi manfaat intangible dari sistem e-business (misalnya: layanan pelanggan yang lebih baik dari nilai periklanan)
6.      Kecepatan dan kemudahan jasa-jasa penunjang, seperti: logistik dan distribusi fisik yang sangat diperlukan dalam mendukung efektifitas dan efisiensi layanan e-business. Sebagai model pemasaran kontemporer, e-business membawa dampak positif bagi tiga pihak: produsen, perantara, dan pelanggan. Produsen dapat menjangkau lebih banyak konsumen, mengumpulkan informasi yang lebih akurat mengenai perilaku konsumen, menentukan pasar sasaran secara lebih efektif, dan melayani konsumen secara lebih baik dan memuaskan. Perantara dapat memperoleh komisi dan fee transaksi atas jasa-jasa bernilai tambah, seperti pengumpulan dan analisis informasi. Sedangkan pelanggan dapat membandingkan dan memilih produk dan harga secara lebih mudah dan akurat, sehingga bergaining power konsumen semakin menguat.

 Peluang E-Business terhadap Perusahaan
1.       Efficiency
·         Perbaikan efisiensi perusahaan (40% biaya operasional utk penciptaan dan penyebaran informasi)
·         E-mail, Website, Call Center, VOIP, Sistem Pendukung Keputusan dll.
2.       Effectiveness
·         Penerapan SCM meningkatkan efektifitas operasional
·         Penerapan ERP à mengintegrasikan aktivitas perusahaan
·          Peningkatan kualitas pengambilan keputusan
3.       Reach
·         Perluasan jangkauan dan ruang gerak perusahaan
·         Memperluas kerjasama dan cakupan ‘daerah’ bisnis
·         Menembus batas ruang dan waktu
4.       Structure
·         Struktur bisnis lebih simple/sederhana
·         Virtual Company
·         Perubahan perilaku perusahaan dalam berbisnis
5.      Opportunity                                                                                                                                                    
·     Peluang yang besar untuk inovasi perusahaan                                                                                         
·. e-Marketing, e-Financing, e-Procurement, e-Logistics, e-Inventory, dll

  Penerapan E- Business Di Indonesia
Beberapa perusahaan BUMN sudah mulai menerapakan e-bisnis di Indonesia untuk meningkatkan daya saingnya, antara lain:
1.     PT. Pos Indonesia yang memiliki bentuk layanan yaitu : Electronic Postal Service (ePostal), Limited Communication Technology Services (eCom), Internet Content Dan Messaging Services, dan Community Acces Point (Warung Masif).
2.  Bank Central Asia (BCA), Program sentralisasi sistem komunikasinya didukung oleh sistem telekomunikasi VSAT dan transponder. Dalam pembenahan ini, BCA meminta bantuan Accenture (dulu Andersen Consulting). Buahnya kini, sekitar 789 cabang sudah terintegrasi sistem TI-nya, dilengkapi dengan sekitar 2 ribu jaringan ATM yang memanfaatkan fasilitas VSAT.
3.   Merpati Nusantara Airlines, Merpati kini memiliki Merpati Internet Reservation Access (MIRA) yang memungkinkan pelanggannya dapat melakukan reservasi setiap saat tanpa harus datang ke kantor Merpati. Untuk kebutuhan internal, Merpati akan membangun sistem terintegrasi yang menghubungkan antara bagian, seperti penjualan, promosi, pemasaran dan keuangan. Sementara eksternal selain akan dikembangkan layanan reservasi online, Merpati juga berminat mengembangkan e-Ticketing dan e-Payment.
4.    Garuda Indonesia juga memanfaatkan Internet untuk membangun situsnya yang memuat informasi baik berupa profile perusahaan maupun paket-paket wisata yang ditawarkannya. Pihak manajemen juga sedang mempersiapkan sistem online reservation yang akan disertakan dalam situs tersebut. Disamping itu, Garuda memanfaatkan Internet untuk dapat memperoleh umpan balik dari para konsumennya dengan menyediakan menu khusus yang diberi namaFeedback. Harapannya, melalui sistem itu, terjalin komunikasi aktif antara konsumen dengan pihak manajemen Garuda.